Kamis, 09-02-2023
  • Mencetak Generasi Qurani Yang Faqih, Berakhlakul Karimah dan Berwawasan Global

Ukhuwah Islamiyah; proses dan urgensi

Diterbitkan :

Berbicara tentang Ukhuwah Islamiyah, tema ini tidak terlepas dari sabda Rasulullah saw. ” Seorang mukmin dengan mukmin yang lain seperti bangunan yang saling memperkuat.” (H.R. Bukahari Muslim).

Hadits di atas dapat kita renungkan bahwa betapa besar nilai sebuah jalinan persaudaraan. Karenanya, memperkokoh pilar-pilar ukhuwah Islamiyah merupakan salah satu tugas penting bagi kita.

Lalu, apa itu ukhuwah islamiyah ?.Kata ukhuwah berakar dari kata akha, contahnya dalam kalimat “Akha Ahmadun mukhlisan” (Si Ahmad menjadikan Mukhlis sebagai saudara). Maka ukhuwah menurut Asy Syahid Imam Hasan Al Banna: Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.

Islam mengajarkan Umatnya untuk bersatu, tidak bercerai berai. Ini adalah merupakan arahan rabbani, kekuatan iman dan nikmat dari Allah swt.

Dalam Al Quran Allah berfirman “ Dan perpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang orang yang bersaudara…” (Q.S. Ali Imran :103).

Program penguatan ikatan ukhuwah islamiyah membutuhkan proses yang tidak singkat, bertahap dan berkesinambungan. Dr. Abdullah Nasikh ‘Ulwan dalam bukunya ” Ukhuwah Islamiyah”, merinci marahil yang pernah ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabat, dan selayaknya merupakan dasar pijakan kita dalam membina ukhuwah islamiyah, di negeri manapun kita berada.

Ada empat tahap yang mesti dilalui sebelum terwujudnya ukhuwah Islamiyyah yang benar-benar kuat dan utuh:

Pertama, ta’aruf , dalam tahap ini, seorang muslim tidak hanya mengenal begitu saja saudaranya; akan tetapi lebih jauh mencoba mengenali penampilan, sifat-sifat (syahsiyah) dan pemikiran saudaranya. pengenalan dalam tahap ini mencakup aspek dan jasadiy , fikriy dan nafsiy.

Kedua, tafahum, Ini merupakan tahap yang penting, karena mencakup berbagai proses penyatuan. Pada tahap ini, setiap muslim dituntut untuk memahami kebiasaan, kesukaan, karakter, ciri khas individu dan juga cara berpikir saudaranya.

Ketiga, ta’awun, dalam proses penyatuan kerja, mutlak diperlukan adanya tolong-menolong yang merupakan kelanjutan dari tahap tafahum. Saling kenal saja, tanpa dilanjutkan dengan saling memahami, tidak akan mampu membentuk hubungan antar individu yang mampu tolong menolong, saling isi mengisi dengan kekurangan dan kelebihan yang terdapat pada tiap individu.

Keempat, takaful, tahap ini merupakan muara dari proses ukhuwah Islamiyyah, yaitu terletak pada timbulnya rasa senasib dan sepenanggungan, suka maupun duka, dalam tiap langkah kerja. Bila fase takaful ini terwujud, maka ikatan ukhuwah Islamiyyah pun terbentuk dengan utuh.

Adapun diantara unsur unsur pokok dalam ukhuwah adalah mahabbah. Tingkat mahabbah yang paling rendah adalah husnudzan yang menggambarkan bersih hati dari perasaan hasad, benci, dengki dan bersih hati dari sebab sebab permusuhan. Sabda Rasulullah saw. “ Tidak sempurna iman seseorang bila ia tidak mangasihi antar sesamanya” (H.R. Muslim).

Ada lagi derajat yang lebih tinggi dari mahabbah, yaitu itsar. Itsar adalah mendahulukan kepentingan saudaranya atas kepentingan diri sendiri dalam segala sesuatu yang dicintai. Ia rela meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya demi kepentingan bersama, ia rela tidak makan demi kenyangnya orang lain dan ia rela ditembusi peluru didadanya demi selamatnya orang lain.

Islam menginginkan agar cinta dan persaudaraan atar sesama manusia bisa merata di semua bangsa, tidak memandang perbedaan culture, warna kulit dan iklim. Sehingga tidak ada kesempatan untuk saling dengki, walaupun berbeda dalam harta dan kedudukan. All the Moslems in the world be united!

Setelah rasa cinta dan persaudaraannya kuat, barulah kita merasakan betapa lezatnya iman ini. Dan juga kita termasuk tujuh golongan yang dilindungi Allah swt. di hari kiamat serta mendapatkan tempat khusus di syurga nantinya.

Nah, fenomena yang terjadi sekarang adanya sikap tidak membela antar sesama muslim dan sesama negara berpenduduk muslim. Ini menunjukkan bahwa hubungan yang selama ini ada dalam bentuk ukhuwah islamiyah itu lemah. Padahal, ajaran islam punya prinsip mementingkan saudaranyan, kerena dengan mementingkan saudaranya itu ia akan mendapat pertolongan dari Allah Swt. Sebagaimana sabda Rasullah saw.” Allah menolong seseorang selama dia menolong saudaranya” (H.R. Muslim).

Oleh karena itu, kiranya masalah Ukhuwah Islamiyah jangan di pandang sebelah mata. Kini masanya kita tegaskan prinsip ukhuwah islamiyah agar kehancuran tidak terjadi. Pertama, menebarkan sikap mahabbah. Kedua, menghapus sikap egoisme.

Dua faktor inilah yang mempengaruhi kuat-lemahnya ukhuwah islamiyah. Artinnya, semakin kuat sikap mahabbah dan rendahnya sikap egoisme, semakin kuat pula ukhuwah islamiyah yang dibina. Sehingga Umat Islam dipandang, tidak diremehkan dan tinggi layak seperti agamanya ( Islam itu tinggi bukan di tinggi-tinggikan ). Sebab umat itu dihargai sesuai dengan kualitas pada dirinya. Wallahul Hadiy Ila Sabilir Rasyad!

Wassalam,

muhammad riza

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan

Penulis : dar faqih qurani

Tulisan Lainnya

Oleh : dar faqih qurani

KEBERKAHAN PAGI HARI

Oleh : dar faqih qurani

Hukum Durhaka Kepada Orang Tua